Laporan Praktikum Mikroteknik

Nama:  Dewi Murni Puspito Sari

NRP   :  G34070104

Maserasi Tumbuhan

Pendahuluan

Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah bertujuan memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh. Teknik ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi suatu zat atau bagian tertentu dari sel tumbuhan (Rachman, A.N. dan R.M. Siagian 1976).

Beberapa contoh ekstraksi dengan menggunakan teknik maserasi adalah mengekstrak artermisin yang terdapat pada tumbuhan Artemisia annua L. Ekstraksi secara maserasi dengan pelarut n-heksana, dengan alat soxhlet menggunakan pelarut n-heksana, dan maserasi-perkolasi dengan pelarut metanol. Ekstrak n-heksana difraksinasi dengan metanol 60%, fraksi metanol difraksinasi dengan n-heksana-etil asetat (9:1). Ekstrak metanol ditambahkan air suling, dan disentrifuga. Supernatan yang diperoleh difraksinasi dengan n-heksana. Pemekatan fraksi n-heksana atau n-heksana-etil asetat menghasilkan kristal yang direkristalisasi dengan metanol. Artemisinin 0,22 % b/b dari ekstrak n-heksana secara maserasi pengadukan, 0,29% b/b dari ekstrak n-heksana menggunakan soxhlet, dan 0,4% b/b dari ekstrak metanol secara maserasi (cahaya et al, 2007).

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi merupakan proses dimana simplisia yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam menstrum sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat mudah larut akan melarut. Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyarian. Cairan penyarian akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat akan didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif mudah larut dalam cairan penyarian, tidak mengandung zat mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan lain-lain. Keuntungan cara penyarian dengan Maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara Maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Fathiyawati 2008).

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk membuat sediaan dengan cara menghancurkan lamela tengah yang menghubungkan antara satu sel dengan sel lainnya sehingga diperoleh gambaran bentuk utuh dari sel-sel tersebut.

Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah batang kayu Bauhinia sp.,  Pinus sp., larutan asam nitrat pekat (HNO3), kristal kalium klorat (KClO3), safranin 1%, etanol 30%, 50%, 70%, 95%, dan 100%, campuran etanol dan xilol bertingkat, larutan xilol murni dan entellan. Sementara itu, alat-alat dalam percobaan ini antara lain pisau/silet/cutter, gelas pengaduk, gelas piala, alat sentrifugasi, mikroskop, kaca objek, dan gelas penutup.

Metode

Metode yang digunakan yaitu metode Schultze dengan cara kerja sebagai berikut. Potongan kayu dipotong kecil sebesar korek api, potongan-potongan tersebut direbus dalam larutan asam nitrat pekat (HNO3) yang ditambah sedikit kristal kalium klorat (KClO3) sampai bahan berwarna putih dan lunak. Material dihancurkan dengan gelas pengaduk hingga sel-sel terlepas atau lunak. Material dicuci dengan air mengalir, kemudian warnai dengan safranin 1% selama dua minggu. Setelah dua minggu, sentrifugasi dengan air selama 10 menit, ambil endapannya dan buang cairannya. Dehidrasi dengan etanol bertingkat berturut-turut etanol 30%, 50%, 70%, 95%, dan 100% disentrifugasi masing-masing selama 10 menit. Dealkoholisasi menggunakan campuran etanol dan xilol bertingkat dengan perbandingan 3:1, 1:1, 1:3 dan larutan xilol murni masing-masing selama lima menit. Kemudian ambil endapan dan letakkan di atas gelas objek, tetesi entellan lalu ditutup dengan gelas penutup.

Ciri anatomi rotan diamati pada penampang lintang potongan batang yang telah dihaluskan dan dari preparat sayatan  dengan pisau mikrotom yang telah diwarnai dengan safranin-O menurut petunjuk Sass (1961). Pengukuran dimensi serat dilakukan terhadap preparat maserasi yang telah disiapkan dengan metode Schultz (Sass 1961) Pengamatan susunan dan ciri kuantitas anatomi rotan yang diamati meliputi tebal lapisan epidermis endodermis, kortek dan diameter komponen anatomi lainnya. Pengukuran dilakukan sebanyak 30 kali ulangan dalam preparat sayatan dengan bantuan mikroskop yang telah dilengkapi dengan mikrometer dan mikrometer gelas yang diletakkan di atas preparat sayatan.

Dalam pembuatan sayatan kayu, untuk pengamatan struktur anatomi sampel setiap sub seksi direndam dengan air selama 24 jam sampai agak lunak, . Untuk preparat awetan, sayatan yang baik direndam dalam safranin selama kurang lebih 5 menit, kemudian dicuci dengan alkohol secara bertingkat, yaitu 50%, 70%, 95% dan 100% masing- masing dengan waktu kurang lebih 15 menit. Untuk pencucian terakhir menggunakan alkohol 100% yang dilakukan sebanyak dua kali. Agar sayatan benar-benar bersih dari air sayatan selanjutnya direndam dengan xylol. Sayatan yang baik (tidak robek) ditempatkan di atas kaca objek, masing-masing bidang transversal, radial dan tangensial, lalu ditutup dengan kaca penutup dan diamati dibawah mikroskop.

Pemisahan Serat: Dari setiap sub seksi, dibuat pula contoh uji berbentuk batangan-batangan berukuran 1 x 1.

Maserasi dilakukan dengan metode Schultze, yaitu ke dalam tabung reaksi yang berisi potongan kayu dimasukkan asam nitrat (HNO3) konsentrasi 65% hingga kayu terendam dan potasium klorat (KClO3). Tabung beserta isinya dipanaskan hingga terjadi gelembung- gelembung udara berwarna putih kekuningan, sebagai tanda proses maserasi sedang berlangsung dan serat mulai terpisah. Kemudian tabung segera didinginkan dan serat dicuci dengan aquades lalu serat dimasukkan ke dalam tabung yang berisi alkohol 50%. Selanjutnya serat diambil dan diletakkan di kaca objek dan diberi kaca penutup lalu diukur dimensi seratnya.

Pembahasan

Tumbuhan berbiji dibedakan menjadi dua, yaitu tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (angiospermae). Praktikum ini dilakukan untuk mengamati perbedaan struktur batang dari keduanya. Secara umum struktur anatomi batang dari lapisan luar ke dalam  yaitu
jaringan epidermis (terdiri dari selapis sel, dinding sel menebal, dilindungi oleh kutikula),  jaringan korteks (terdiri dari beberapa lapis sel, berongga-rongga, bervakuola besar, berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan),
stele (terdiri dari xylem dan floem). Pada angiospermae, letak jaringan pengangkut (xylem dan floem) pada tumbuhan dikotil lebih teratur daripada tumbuhan monokotil. Fungsi batang antara lain adalah  sebagai organ perlintasan air dan makanan (xylem sebagai jaringan yang mengangkut air dan garam mineral, sedangkan floem sebagai jaringan yang mengangkut hasil fotosintesis), sebagai organ pembentuk dan penyangga tubuh tumbuhan, sebagai tempat penyimpan cadangan makanan, sebagai alat perkembangbiakan vegetatif.

Batang gymnospermae diwakili oleh Pinus sp.. Pinus termasuk ke dalam tumbuhan Conifer. Sistem pembuluh gymnospermae adalah silinder bercelah, dan di bagian tengahnya terdapat empulur. Empulur terdiri dari jaringan agak seragam, terutama parenkim dengan susunan longgar.  Tipe berkas pembuluh  konsentris amfikribal. Konsentris amfikribal artinya adalah perbuluh terbentuk dengan susunan xylem dikelilingi floem. Pada floem primer tidak terbentuk pada bagian tepid an tidak ditemukan adanya endodermis. Selama pertumbuhan sekunder batas dari floem dapat dikenali dngan adanya jari-jari empulur. Pada batang gymnospermae di luar floem terdiri tannin. Sejak pertumbuhan awal, batang mengandung pembuluh resin pada korteks. Jika batang besar, pembuluh resin juga menjadi lebih besar.

Angiospermae merupakan tumbuh berbiji tertutup. Ada dua jenis tumbuhan angiospermae yaitu dikotil dan monokotil. Batang angiospermae pada praktikum ini diwakili oleh batang Bauhinia sp.. Batang angiospermae memiliki silinder pembuluh primer yang terputus-putus pada tiap ruas, karena keluarnya satu atau lebih berkas pengangkut yang masuk ke dalam daun. Pada dikotil yang berjenis pohon, daerah antar pembuluhnya sempit . empulur terdiri dari parenkim berisi getah yang juga terdapat pada bagian korteks. Pada batang yang sudah tua, empulur terdiri atas sel berdinding tebal berwarna lebih tua karena banyak mengandung tanin. Selya terdiri dari sel hidup yang mengandung tepung. Floem sekunder banyak dibentuk serabut yang terdiri atas pembuluh pengangkut sel parenkim. Pada tumbuhan berkayu terdapat pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan sekunder merupakan hasil dari keaktifan kambium pembuluh yang membelah terus menerus sehingga jumlahnya meningkat. Hasil prartikum ini terlihat kurang jelas, yang disebabkan kurang baiknya proses penyayatan ataupun pewarnaan. Hal ini mengakibatkan tidak terlihatnya organel-organel khusus seperti pembuluh resin pada batang pinus.

Simpulan

Anatomi batang terdiri dari epidermis, korteks, dan stele. Terdapat empulur pada batang gymnospermae. Tumbuhan berkayu baik gymnospermae maupun angiospermae mengalami perkembangan sekunder akibat aktifitas kambium. Pada tumbuhan gymnospermae terdapat pembuluh resin, dan memiliki berkas pengangkut konsentris amfikribal.

Daftar Pustaka

Fathiyawati. 2008. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ficus racemosa terhadap Artemia salina Leach dan Profil Kromatografi Lapis Tipis. Surakarta: Universitas Muhammadiyah press.

Cahaya Rohni, et al. 2007. Isolasi Artemisinin dari Daun Artemisia annua L. http://bahan-alam.fa.itb.ac.id (12 okt 2009).

Rachman, A.N. dan R.M. Siagian. 1976. Dimensi Serat Jenis Kayu Indonesia, Bagian III. Laporan No. 75. Bogor: Lembaga Penelitian Hasil Hutan.

Comments are closed.